Jumat, 06 Mei 2011

To be Master of Ceremony, Bukan lagi sekedar bermimpi !

Bermimpi itu seperti menggapai pelangi, dan hanya orang bodohlah yang dapat melakukannya. Tapi itu salah. Bermimpi bukan hal yang tolol. Justru dari bermimpilah kita mempunyai goal hidup yang jelas dan mempunyai jalan tuk menggapai impian itu.
           
         Aku begitu terkesima, memandang dan mendengarkan dengan seksama ketika seseorang membawakan sebuah acara, mulai dari kemantenan (perkawinan), khitanan, dalam event seminar maupun workshop, hingga pemandu televisi seperti presenter. Selalu kutatap lekat-lekat orang yang sedang berbicara dengan mengenggam microphone ditangannya. Dan pikiran ini pun mulai melayang-layang.
          “Andaikan saja, yang berbicara di depan itu adalah aku….” Ku tersenyum simpul sembari mengingat khayalan yang ada di otakku. “Ah,,, lagi-lagi aku berkhayal dan selalu bermimpi.” Salah satu pikiran menyadarkanku dari lamunan.
           “Suatu saat nanti, kamu harus bisa seperti itu, jadi mc di mantenan kakakmu.” Ibu berkata padaku. “Ah Ibu, mimpi kali, aku bisa seperti itu”jawabku dengan ketus. “Lho, ya harus !” jawab Ibuku dengan cepat. Aku hanya bisa menghembuskan nafas beratku.
Tak tahu kenapa, setiap kali aku melihat acara di televisi, selalu aku melihat gaya presenter yang membawakan event-nya dari awal hingga akhir. Kuselalu melihat dan mendengar dengan seksama setiap gaya dari presenter stasiun televisi yang berbeda-beda. Ingin sekali aku bisa seperti mereka. Aku berandai-andai, kapan ya aku seperti mereka….
          Sebelum kupejamkan mata tuk pergi kealam mimpi, tak tahu kenapa tiba-tiba aku kepikiran dengan omongan Ibu sore tadi, saat melihat acara sambut manten di tetanggaku. Akupun kembali tersenyum “Hmmm,,,, iya yah, andaikan aku bisa nge-mc, andaikan aku yang menjadi mc sore tadi !”mataku menatap langit-langit kamarku yang mulai dipenuhi oleh debu. Oh impian, kenapa kau semakin membuatku gila dan berandai-andai!
          “Ya Tuhan, jika Kau berkehendak mewujudkan impianku ini, kumohom padaMu dengan sangat, beri aku jalan dan petunjuk untuk menimba ilmu mc. Amin ..” doaku lirih sebelum kutertidur dan memejam mata.
******
             “Wah, keren…!” kupegang brosur berukuran folio yang berisi tentang sebuah rutinitas mc dan presenter di masjid yang diselenggarakan oleh salah satu unit kegiatan mahasiswa di kampusku. Pada awalnya aku merasa malu untuk mendatangi kegiatan itu, dikarenakan aku bukanlah anggota dari sebuah Ikatan Qori’ Qori’ah Mahasiswa yang biasa disingkat IQMA. Tapi apa boleh buat, demi menimba ilmu mc aku harus mendapat dipengalaman dan ilmu tentang semua itu. Alhamdulillah, melalui acara rutinitas setiap hari senin yang diselenggarakan di masjid, aku bisa mendapatkan teori. Selangkah lagi aku bisa menjadi mc. Itulah yang kuharapkan.
              Bukan hanya rutinitas yang aku ikuti, tetapi aku semakin tertarik menjadi anggota IQMA. Awalnya aku benar-benar minder karena aku tak punya bakat dan pengalaman sama sekali. Tetapi dengan modal semangat dan percaya diri, akhirnya aku memutuskan untuk mendaftarakan diri sebagai anggota IQMA. Sebenarnya banyak yang ditawarkan dalam ikatan ini. Seperti sholawat, tilawah, banjari, kaligrafi, dakwah dll. Tapi aku lebih tertarik di bidang MC & Presenter. Karena itulah salah satu dari cara tuk mewujudkan mimpiku.
            Setelah melakukan registrasi disertai dengan orientasi anggota baru selama tiga hari dan dilanjutkan tiga hari lagi pada bulan selanjutnya, Alhamdulillah, aku telah melewati proses- proses itu dengan lancar, walau yang kurasakan saat itu benar-benar rasa minder karena aku tidak mempunyai pengalaman dan ilmunya sama sekali. Tapi aku benar-benar berhasrat untuk bisa mendapatkannya. Dan aku yakin aku pasti bisa.
Selain program rutinitas, ada sebuah program bimsus berkepanjangan dari bimbingan khusus untuk anggota IQMA yang telah terdaftar. Dari sinilah aku bisa berlatih tampil dengan bekal teori dari rutinitas. Dan perlahan tapi pasti, dengan latihan, latihan dan terus berlatih menjadi mc dan presentetr, ternyata aku bisa. Walau bisa dibilang aku masih kaku.
*****
         Bimbang atas kemampuanku yang masih berumur biji jagung. Itulah yang kurasakan sebelum mengikuti lomba audisi MC & Presenter yang diselenggarakan oleh IQMA di kampus setelah berakhirnya program bimsus selama tiga bulan. Teman-temanku merasa pesimis bahkan tidak berani mengikuti event tersebut. Tapi aku benar-benar ingin mendapatkan pengalaman itu, walau jika pada akhirnya aku menerima kekalahan karena tak bisa mendapatkan juara. Tapi bagiku saat ini yang terpenting adalah pengalaman sebelum aku terjun ke lapangan dimana aku harus menjadi mc. Lagi-lagi aku benar-benar bimbang untuk mendaftar audisi itu.
           Bismillah, dengan segenap hati kutata niatku tuk mendaftarkan diri. Aku berlatih di depan kaca terus menerus baik menjadi MC maupun presenter. Karena sehari sebelum audisi, setiap peserta diwajibkan mengambil lotre untuk mengetahui apa yang akan ditampilkan, entah itu sebagai MC atau presenter. aku lebih tertarik mc dan mempelajarinya, tetapi aku juga mempersiapkan diri berpresenter buat cadangan lotre. Aku memohon pada Allah Yang telah Mengatur, semoga aku dinjukkan yang terbaik. Dan pada akhirnya aku harus menerima kenyataan jika aku harus menjadi presenter yang aku tampilkan.
           Kukerahkan semua usahaku dalam sehari untuk belajar ber-presenter. mencari sumber berita ter-up date dari Koran maupun televise. Tak lupa aku harus belajar dari teman senior untuk mengecek teks presenter yang aku bawakan, baik dari segi pemilihan kata maupun intonasi menjadi presenter. yang harus aku lakukan hanyalah berlatih dan berlatih.
           Dengan segenap usaha, kuserahkan hasilnya pada Tuhan, semoga memberikanku kelancaraan saat di panggung mulai awal hinga akhir.
*****
            Keterampilan berbicara menjadi seorang mc dan presenter telah kuperoleh. Dilain kesempatan, aku sering mendapat pengalaman melalui undangan menjadi mc di acara pernikahan, bahkan dalam acara yang diadakan organisasi-organisasi yang aku ikuti.
            Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka bisa seperti sekarang ini. Dulu, aku hanya bisa berharap dan bermimpi, bisa mempunyai skill menjadi master of ceremony. Tapi sekarang Kau telah mewujudkan mimpiku, bahkan diluar dugaanku. Aku bisa mempersembahkan piala juara ketiga dari kategori presenter itu kepada kedua orangtuaku. Sungguh Kau Maha Mendengar dan Sang Pengabul Do’a satu-satunya. Terima kasih Tuhan, aku benar-benar bersyukur atas apa yang Kau berikan padaku.
           Sekarang aku makin percaya dengan mimpi. Karena dengan mimpi adalh tujuan hidup kita jelas. Apalagi dengan motto Dare to dream, dan dilengkapi dengan DUIT (Doa, usaha, Ikhtiar dan Tawakkal), insya Allah mimpi akan menjadi kenyataan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar