Minggu, 30 Juni 2013

Rendezvous VS Iwak Peyek (The Importance of Positive Learning Environment)


Dua tahun yang lalu, saya melaksanakan PPL II (Praktik Pengalaman Lapangan) sebagai mata kuliah wajib dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang saya ambil. Hal ini berbeda dengan PPL I (microteaching) di kelas perkuliahan sambil di monitoring oleh dosen yang bersangkutan. Kali ini saya mengajar di sebuah SMK swasta di Surabaya. Jujur, inilah pertamakalinya mengajar di kelas apalagi murid-murid yang saya hadapi adalah 95% COWOK. Sebuah tantangan baru yang harus saya hadapi.
Di awal, saya dan murid-murid selalu berkenalan dari satu kelas ke kelas lain sambil membahas kelas kontrak untuk mnyepakati larangan apa yang mereka buat saat di kelas. Ternyata mereka humble, cheers, kocak, dan segala sifat-sifat mereka di luar dugaan saya kepada anak SMK yang terkenal urak”an. Hanya ada satu atau dua anak saja yang suka bolos dan hal itu ditangani sendiri oleh guru BK yang bersangkutan. Tapi ada satu hal yang perlu digarisbawahi ketika mengajar mereka. Yakni ketika mereka bergurau sungguh kelewat batas. Bukan hanya saat bersama teman sebaya mereka saja, tapi hal ini juga mereka aplikasikan ke dalam kelas pelajaran.  Termasuk dalam pelajaran bahasa inggris yang saya ajarkan.
Untuk masalah bergurau, memang saya juga menyukainya. Terlebih bersama mereka yang membuat perut saya terkoyak cekikikan. Pernah suatu ketika saya Mereka terkadang lebay dan terlihat caper, maklum saja mereka minim mempunyai guru perempuan.
Sebelum pelajaran bahasa inggris dimulai, saya selalu memberikan ice breaker kepada siswa agar terbangun suasana kelas yang santai dan menyenangkan. Dan kali ini kita bermain whispering words yakni teman yang di depan melihat kata yang sudah saya siapkan untuk membisikkan kepada teman yang persis dibelakangnya. Teman yang paling belakang menulis kata yang diperoleh dari bisakan di papan tulis. Tapi apa yang terjadi? Diluar dugaan saya. Sebuah kata RENDEZVOUS menjadi kata IWAK PEYEK. Parahnya setelah dia menulis, mereka menyanyikan lagu dangdut tersebut secara serentak. Maklum saja lagu tersebut begitu populer kala itu. Satu kelas menjadi sebuah karaoke yang telah disulap. Saya hanya bisa tersenyum sambil mengelus dada. Kemudian saya tak patah semangat untuk melanjutkan pelajaran. Apa yang saya dapatkan? Mereka tetap bermain dengan teman di sekitar bangkunya. Entahlah apa yang mereka bahas. Setelah saya menyiapkan materi pembelajaran melalui LCD, saya menemui bangku mereka satu persatu. Satu bangku sudah saya temui, bangku yang lain masih berkicau. Dilanjutkan bangku pojok dan bangku yang lain. Kesal aku dibuat mereka. Kali ini saya tetap melanjutkan materi dan hanya fokus kepada murid-murid yang serius mau belajar dengan sungguh-sungguh. Biarkan saja mereka berkicau asalkan tidak mengganggu temannya yang belajar.  Dimanapun saya berada, sungguh  sedih dan kepikiran dengan kondisi kelas iwak peyek tadi. Saya terus memikirkan hal-hal yang bisa mengubah pembelajarn yang cocok buat mereka.

When students feel respected, supported, appreciated and valued, 
learning comes much more easily. 
(Michelle McFarland-McDaniels)

Berbagai pendekatan saya terapkan. Termasuk Positive Learning Environment. Dimulai dari personal approach. Saya mengorbakan 2 jam pelajaran dan waktu-waktu luang untuk sekedar berkumpul, bercerita, bercanda dengan mereka. Fortunately, mereka sangat terbuka dan obrolan kami dari A sampai Z juga nyambung. Kebetulan sifat mereka juga seperti sahabat-sahabat saya sendiri. Umur saya dengan mereka juga tidak terpaut panjang, sekitar 4-5 tahun saja. Dari situ mereka sering curhat di media social (FB) dan meminta solusi atas masalah yang mereka hadapi. Saya berusaha membantunya semaksimal mungkin. Sering juga saya memotivasi memberikan dukungan akan hal-hal positif yang mereka lakukan seperti mengikuti lomba otomotif hingga memberikan solusi atas masalah pacarnya yang suka selingkuh yang membuat mereka galau. Maklum abg labil. Hehhehe.
Seminggu saya bersahabat dengan mereka di dunia maya maupun nyata membuat kondisi kelas berubah. Mereka menjadi serius saat proses pembelajaran berlangsung. Mungkin mereka ada rasa malu karena sebelumnya kita sudah terbuka. Alhasil mereka bersaing positif misalnya dalam mengumpulkan tugas dan menjawab kuis yang selalu saya buat di kelas. Saya pun selalu memberikan apresiasi atau reward agar mereka selalu bertambah motivasinya untuk belajar dan belajar. Inilah pengalaman baru yang saya dapat, betapa pentingnya lingkungan pembelajaran yang positif, karena peran guru bukan hanya sekedar menyampaikan materi pembelajaran saja.
Benar apa yang dikatakan oleh Bapak Riyadi, selaku Guru pamong saya waktu PPL disitu. Beliau berkata “Jika kamu bisa handle siswa-siswa disini, maka kamu bisa merengkuh segala jenis murid di sekolah manapun”. Beliau selalu memberikan semangat kepada saya agar tidak patah semangat untuk mengajar. Hingga terciptalah sebuah goresan sederhana dari beliau untuk saya.

Sepotong sajak untuk mahasiswi PPL

Anakku,
Sekian pekan terlampaui
Kau guratkan langkah pasti
Meniti satu persatu aksara di papan putih yang terpampang disana
Dengan lantang berucap
Terangkan apa yang kau tahu
Sementara …
Sekelompok bocah ingusan tajam menatap
Sembari lontarkan canda-canda kampungan
Sesekali terdengar keprokan tangan-tengan kecil memecah hening di ruang itu
Tabahkan hatimu, anakku
Melihat realita masa kini
Dimana potret pribadi semakin luntur
Terseret peradaban orang seberang
Yang coba porandakan budaya kita
Ya Allah …
Limpahkanlah welas-Mu pada anak-anakku
Yang sedang menuntut ilmu
Ntuk bekal hidup nanti


Written by :
Riyadi Maryanto

Hingga tiba saatnya tugas PPL II selesai. Kini canda berganti menjadi tangis. Saatnya melambaikan tangan kepada mereka. Hal yang mengagetkan adalah ketika guru pamong PPL saya memberitahukan bahwa murid-murid meminta saya untuk mengajar mereka lagi dan seterusnya. Sebetulnya saya tak dapat menolaknya, tapi perkuliahan saya masih berlangsung. Jadi mereka hanya bisa bertemu saya di dunia maya saja. Satu hal yang harus mereka pertahankan. Jangan melunturkan semangat belajar!




Sumber Gambar:
http://ejgteach.pbworks.com/f/1245286610/Wrdl.jpg
http://images.cpcache.com/merchandise/514_400x400_Peel.jpg?region=name:FrontCenter,id:29080012,w:16
Tulisan ini diikutsertakan dalam 

Kontes Menulis: Sharing Menangani Permasalahan Peserta Didik

2 komentar:

  1. Terima kasih telah berbagi pengalaman mengajarnya mbak. Ditunggu pengumumannya yak :)

    BalasHapus
  2. pengalaman yang sangat berharga. selalu semangat dalam mengajar akan memberi "roh" terhadap pelajaran yang kita berikan. semoga sukses..

    BalasHapus